Pasca Pekerti, 67 Dosen Siap Mengajar Efektif dan Menyenangkan

ITNMALANGNEWS.COM – Pelatihan Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) di Aula kampus I Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang memberi arti yang sangat penting bagi 67 dosen. Para dosen merasa dibuka wawasannya khususnya terkait bagaimana mengajar yang baik, efektif, dan tidak membosankan bagi mahasiswa.

Ir. Kartiko Ardi Widodo, MT, salah satu dosen peserta Pekerti menyatakan bahwa melalui kegiatan itu pola pandangnya tentang mengajar menjadi berubah. Jika sebelumnya adalah Teacher Centre Learning (TCL) sekarang menjadi Student Centre Learning (SCL). “Kalau TCL mahasiswa pasif dan membosankan, SCL mahasiswa aktif dan tidak menjenukan,” terang pria asli Malang itu saat diwawancara pasca acara pada Jumat (19/2/16).

pasca-pekerti-67-dosen-siap-mengajar-efektif-dan-menyenangkan

Selain itu, hal penting lainnya saat mengikuti Pekerti adalah bahwa seorang dosen harus memiliki rencana sebelum mengajar. Yang direncanakan adalah materi yang akan diajarkan, capaiannya, dan metode yang akan digunakan. “Jadi dosen tidak asal masuk kelas mengajar, memberi tugas dan selesai pulang,” terang pria yang akrab disapa Kartiko tersebut.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Widiyanto Hari SW,ST,MSc, salah satu dosen baru ITN. Menurut pria lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu dengan Pekerti dapat mengerti bagaimana membuat kurikulum. Dapat mengerti cara membuat capaian pembelajaran mata kuliah (standar kompetensi) dan kemampuan akhir yang direncanakan (kompetensi dasar). “Kompetensi dasar ini kemudian diterjemahkan lagi menjadi indikator-indikator, yang dapat diukur,” tuturnya.

Sementara Liduina Asih Primandari, peserta dari STMIK  Pradnya Paramita, menangkap penting evaluasi dalam belajar. Dimana dalam melakukan evaluasi seorang dosen mestinya tidak hanya fokus pada hasil ujian mahasiswa. Melainkan harus konprehensif yang mencakup kehadiran siswa, keaktifannya di kelas, dan usaha kerasnya. “Kalau nilai mahasiswa hanya berdasarkan ujian itu tidak adil, karena bisa jadi mahasiswa itu sangat aktif tetapi saat ujian lagi sakit hasilnya akan jelek. Padahal itu bukan hasil yang sebenarnya,” kata dia. (her)

(Visited 140 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *