Ir. Supriyanto, Dari Rugi 1 Milyar hingga Omzet 500 Milyar

ITNMALANGNEWS.COM – Nama Ir. Supriyanto kerap didengar ketika sedang berbicara tentang alumni Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Pria yang akrab disapa Supri ini merupakan alumnus Teknik Sipil ITN Malang angkatan 1980. Kini ia menjabat sebagai komisaris PT Setia Mulya Abadi dan mengamanahi anaknya untuk menjadi komisaris di dua perusahaan lain.

Ir-Supriyanto-alumni-itn-malang-Dari-Rugi-1-Milyar-hingga-Omzet-500-Milyar

Karir cemerlang Supri bukan proses instan atau warisan. Supri bercerita ia sudah bekerja sejak semester 7 saat masih di bangku kuliah. “Orang tua saya udah sepuh, jadi saya harus kerja untuk bisa kuliah. Saya pernah meninggalkan ujian semester karena ada tamu dari mabes, kalau saya dipecat atasan bisa-bisa malah tidak kuliah lagi,” kenangnya. Perjuangan tersebut membuat selebrasi kelulusan menjadi momen yang tidak terlupakan. Apalagi dulu terdapat tradisi setiap sarjana yang lulus dimasukkan ke dalam kolam ‘Candradimuka’.

Selepas lulus dari kampus biru pada 1987, selama dua tahun Supri bekerja di PT Amin Corporation Surabaya. Pada 1989—1995 ia ditugaskan di Sulawesi Tengah untuk mengerjakan proyek jembatan dari ADB 9. Pada 1995—2008, CEO Ikatan Alumni Sipil ITN Malang ini menjadi Direktur Utama di PT Setia Mulya Abadi. PT Setia Mulya Abadi sendiri bergerak di bidang jasa konstruksi, dengan berkantor pusat di Palu, Sulawesi Tengah.

Bisnis Supri dirintis dari kontrak-kontrak kecil senilai 25 juta. Supri juga pernah tertipu hingga rugi satu milyar, tapi beruntung kerugian tidak sampai menimbulkan kebangkrutan. Bisnis ini justru kian berkembang. “Dengan tetap menjaga kepercayaan klien dan kualitas kerja, omzet perusahaan naik menjadi 500 milyar sekitar lima tahun lalu,” ujar Supri.

Baca juga: Alumni Arsitektur ITN Malang Masuk dalam 100+ Indonesian Architecture Firms & Emergings

Baca juga: Leadership Camp : Percaya Diri Kunci Sukses, Alumni ITN Malang Beri Motivasi pada Pelajar se-Malang Raya

Contoh proyek yang pernah ditangani adalah bandara Mutiara Palu, Pelabuhan Gilimanuk, Padang Bay, Lembar, dan Pertamina di Tarakan. Saat ini ia tengah menangani proyek hunian untuk korban gempa Palu. Tidak berhenti di sana, sebagai pegangan saat pensiun kelak, Supri juga merambah ke bisnis franchise KFC di Tangerang, Depok, dan Bekasi bersama kolega-koleganya.

Supriyanto berpesan pada generasi muda agar menjadikan kuliah sebagai ajang belajar sebanyak-banyaknya. “Ilmu sama saja di mana pun kampus kita, yang penting adalah saat kuliah kita bisa memahami ilmu tersebut dan bisa menerapkan profesionalitas saat bekerja. Mengutip pesan almarhum dosen beton saya, kita harus menjaga kualitas diri dan ketepatan waktu,” pesannya, Selasa (26/02). (ata)

(Visited 115 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *